Oleh KH. Nisful Laila Iskamil
Anakku, pernahkah engkau bertanya pada dirimu sendiri, siapa aku sebenarnya? Ke mana langkah ini akan membawaku? Apa yang sebenarnya kucari dalam hidup?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar renungan, melainkan panggilan dari dalam dirimu. Ia muncul di saat-saat sunyi, mengetuk kesadaran, mengusik jiwa yang haus akan makna. Sebab hidup bukanlah sebuah percobaan yang bisa kau ulang sesuka hati. Ia juga bukan permainan di mana kau dapat berlari tanpa tujuan, mencoba segala sesuatu tanpa arah.
Banyak yang terombang-ambing dalam pencarian tanpa akhir, berlari dari satu tujuan ke tujuan lain, tanpa menyadari bahwa jawaban sejati ada begitu dekat—di dalam dirinya sendiri.
Namun, dalam kasih sayang-Nya yang tak terbatas, Tuhan memberi manusia kesempatan untuk bertanya, mencari, dan memahami makna keberadaannya. Kita merasa bebas, seakan bisa menentukan segalanya sendiri. Namun, pada saat yang sama, kita diingatkan bahwa setiap langkah kita tetap berada dalam genggaman-Nya. Rahman dan Rahim-Nya mengalir dalam hidup kita, membimbing dengan cara yang terkadang tak kita sadari.
Anakku, sekarang, tanyakan pada dirimu:
Apakah engkau benar-benar memiliki kendali atas segalanya? Bisakah engkau menurunkan hujan di saat kering? Mengubah sakit menjadi sembuh tanpa izin-Nya? Menghidupkan yang telah mati? Jika tidak, maka siapakah dirimu sebenarnya?
Kesadaran akan keterbatasan ini bukan kelemahan. Justru di situlah letak kebijaksanaan. Saat engkau menyadari bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengatur segalanya, engkau akan melihat hidup dengan cara yang berbeda. Engkau akan belajar berserah, namun tidak pasrah. Engkau akan memahami bahwa dalam setiap langkah kecilmu, ada bimbingan-Nya yang tak terlihat, tetapi nyata.
Dalam budaya kita, mengenali diri sendiri adalah awal dari kearifan. Ajining diri soko lathi, ajining raga soko busana—harga diri seseorang tercermin dari kata-katanya, dan martabatnya terlihat dari cara ia menjaga dirinya. Seorang manusia sejati tidak hanya dikenal dari ucapannya, tetapi juga dari perbuatannya.
Maka, jangan berjalan tanpa arah. Jangan biarkan hidupmu sekadar mengikuti arus tanpa tujuan. Temukan dirimu. Kenali siapa dirimu di hadapan Tuhan. Gunakan setiap anugerah yang diberikan-Nya dengan penuh kesadaran. Sebab sejatinya, kehidupan ini bukan sekadar perjalanan, melainkan sebuah panggilan menuju cahaya yang hakiki.